
Ku amati diriku di depan cermin. Orang-orang bilang aku mulai tumbuh jadi gadis remaja. Meskipun aku berulang kali meneliti seluruh wajahku. Kesimpulanku tak berubah juga. Ah, tidak ada yang istimewa, aku merasa biasa-biasa saja. Tapi toh semua itu tidak membuat aku jadi rendah diri. Meskipun di Gereja banyak temanku yang cantik, aku tetap percaya diri untuk selalu aktif dalam kegiatan di gereja. Aku berpikir bahwa sudah semestinya aku bersyukur dengan semua yang Tuhan berikan kepadaku, jadi aku juga mesti bangga dengan diriku sebagai karya Tuhan yang sempurna. Dan ungkapan syukurku ku wujudkan dengan berusaha selalu …….
Ah, lamunanku terpotong oleh dering telpon yang tiba-tiba menyadarkanku. Cepat ku tinggalkan meja rias dan menarik gagang telpon.
“ Yang, kamu masih di rumah ? ” suara Aldi menyahut sapaan selamat
sore dariku.
“ Iya, tapi sebentar lagi aku mau berangkat ke Gereja. ”
“ Cuma sebentar khan ? ”
“ Tapi setelah Katekisasi aku langsung latihan band. ”
“ Masak sih latihan terus ? ”
“ Natal khan sudah dekat, jadi latihannya mesti sering.”
“ Yang, ini khan malam minggu. Mestinya kamu ingat kalau ini waktu
buat kita. ” Suara Aldi mulai tampak kesal.
“ Tapi khan….. ”
“ Kita satu bulan pacaran, tapi sebulan juga kamu nggak pernah ada waktu buat aku. ”
“ Yah, memang begini ini aku. Kalau kamu nggak bisa memahami aku,
kita putus saja. Cari saja gadis yang ndak sesibuk aku. ”
“ Lho Yang, maksudku….. ”
Aku segera menutup gagang telpon. Rasanya malas berdebat dengan Aldi . Aku tidak tahu mesti kesal atau marah pada siapa. Yang pasti aku menyesali kebodohanku sendiri. Kenapa juga aku mau pacaran sama Aldi yang jelas-jelas nggak sejalan sama aku. Bukan salah dia kalau tidak bisa memahami bagaimana aku mengutamakan semua kegiatan ibadah. Bagiku Yesus adalah yang utama. Kalau disuruh memilih antara pacar dan latihan band untuk acara Natal, pasti tanpa pikir panjang aku akan lebih memilih meninggalkan pacar.
Dengan berusaha keras agar tidak menangis aku meraih kunci sepeda motor dan segera pergi ke Gereja untuk Katekisasi. Untung di rumah sedang sepi. Semuanya masih tidur, jadi tidak ada yang melihat wajah kusutku dan aku tidak perlu memberi penjelasan apa-apa.
Sesampainya di Gereja, Katekisasi sudah hampir dimulai. Cepat-cepat aku masuk dan segera duduk. Meskipun jarak antara aku dan Pak Pendeta cukup dekat, tetapi aku tidak bisa mendengar penjelasan Pak Pendeta dengan baik. Ah, yang ada di kepalaku hanya pertengkaran dengan Aldi saja. Katekisasi kali ini juga rasanya lama sekali. Sepertinya jarum jam di dinding tidak bergerak. Berkali-kali aku melirik jam. Untuk menghilangkan sedikit keresahanku, aku mencoret-coret buku catatanku. Dan ketika akhirnya Katekisasi berakhir, aku menarik napas panjang, lega rasanya. Tapi mungkin agak terlalu keras karena kulihat Pak Pendeta menoleh ke arahku. Dengan perasaan malu dan kaget aku tersenyum ke arah Pak Pendeta.
“ Permisi Pak, mau cepat-cepat ke studio, latihan.” Kataku
mengalihkan perhatian.
“ Iya hati-hati. ” Sahut Pak Pendeta singkat.
Secepat mungkin aku menuju ke studio. Setengah berlari aku masuk studio setelah ku parkir sepeda motorku. Tak terasa aku masuk sambil meneteskan air mata.
Namun cepat – cepat aku menghapusnya ketika ku sadari semua teman yang sudah lebih dulu datang menatapku. Aku berhasil memunculkan senyum meskipun mungkin terlihat aneh. Dan sepanjang latihan kali ini aku selalu saja melakukan kesalahan. Pada saat istirahat aku berusaha menenangkan diri di luar studio. Bukannya hati ini menjadi tenang, tapi justru dengan menyendiri seperti ini pertengkaranku dengan Aldi kembali melintas. Lagi – lagi butiran air bening mengalir di pipi.
“ Ada masalah apa sih ? “ Tiba – tiba saja Rendi sudah ada di
sampingku.
“ Nggak apa – apa kok. “ Aku menunduk
“ Tapi kok nangis, masalahmu serius ya ? “
Aku hanya diam saja. Rendi memang sahabatku sejak kecil selain selalu bersama di kegiatan gereja, kami satu sekolah. Kami sudah terbiasa saling menceritakan masalah masing – masing. Tidak ada lagi rahasia diantara kami. Tapi saat ini rasanya aku belum mampu menceritakannya. Perasaanku masih campur aduk tidak karuan.
“ Kok diam aja ? Aku nggak boleh tahu ya ? Atau aku mengganggu
kamu di sini ? Kamu lagi pengen sendiri ya ? “
Ah, Rendi memang selalu bisa memahami aku. Dia selalu mampu menentramkan perasaanku. Digenggamnya tanganku erat. Ada kehangatan yang mengalir.
“ Ya sudah aku masuk dulu ya. Kalau sudah merasa lebih baik, masuk
ya. Ditunggu teman – teman tuh. “ Dilepaskannya genggaman tangannya. Ditepuk perlahan punggungku. Aku hanya mengangguk. Tapi sampai latihan berakhir aku tak beranjak dari tempat dudukku. Aku baru menyadarinya setelah satu persatu teman – teman berpamitan padaku.
“ Cha, pulang yuuk. “ beberapa teman menegurku.
“ Ya. “ jawabku perlahan.
Entahlah apa yang ada dibenak mereka. Tapi ku rasa mereka cukup memahami suasana hatiku. Mereka pasti tahu dari raut mukaku yang muram seperti malam berselimutkan mendung, jadi tidak perlu mereka bertanya padaku, pasti sudah tahu kalau aku sedang punya masalah.
“ Kamu mau aku antar ? “ Rendi lagi – lagi sudah ada di sampingku.Aku tetap diam. Tanpa menoleh pada Rendi aku langsung berdiri dan berjalan ke tempat parkir. Rendi sudah sangat hafal sifatku. Kalau aku diam saja, berarti aku tak mau diganggu apalagi dipaksa. Jadi dibiarkannya aku tidak bicara apapun. Namun dia tetap mengikutiku hingga sampai di rumah. Di kamar aku menangis sampai puas dan beban didalam dada mulai agak terasa ringan. Setelah ku seka semua air mata diwajah, ku temui Rendi. Dia masih tetap menunggu sampai aku mau dan mampu bercerita. Dia memang selalu sabar menghadapi aku. Aku duduk disampingnya. Diletakkannya gitar yang sejak tadi dimainkannya sambil menunggu aku.
“ Kenapa to kamu? Ada masalah apa? Cerita aja. Aku khan sudah janji sama kamu kalau aku akan setia menemani kamu. Santai aja. Jangan murung begitu ah, jelek kamu. ” Dia menggoda aku.
Meskipun kesal, aku tersenyum juga mendengar selorohnya. Lalu ku ceritakan semuanya kepadanya. Dia memang pendengar yang baik. Penuh perhatian dia dengar ceritaku. Setelah selesai aku bicara baru dia menyahut.
“ Ya udah, kamu nggak usah terlalu sedih ya. Boleh sih sedih tapi jangan lama-lama. Nggak usah terlalu larut dalam masalah ini. Sudah malam nih, kamu istirahat dulu. Aku mau pulang dulu. Besok saja dilanjutkan kalau kamu sudah lebih segar. ”
Kembali tanganku digenggamnya. Rasa hangat itu kembali mengalir. Ada yang aneh dalam perasaanku. Tapi ah, aku tidak berani melanjutkan dugaanku.
“ Ya. ” Jawabku singkat sambil cepat-cepat berdiri.
Aku takut kalau-kalau gemetar di tanganku dirasakan olehnya. Rendi berdiri di hadapanku tidak dilanjutkannya melangkah menuju sepeda motornya.
“ Makanya cari pacar temen gereja aja. Nggak akan ada masalah
seperti ini.”
“ Temen gereja ? Tapi siapa ? Nggak ada khan yang mau sama aku ? ”
“ Masak gak ada ? Ku doakan supaya nanti ada yang jadi kado Natal
buat kamu. ”
“ Sudah ah, pulang sana. Sudah malam. ”
Entah kenapa tiba-tiba aku takut terlalu lama didekatnya. Apalagi memandang senyumnya yang ……. Ah cepat-cepat ku tepis pikiran dan perasaanku yang mulai mengembara. Tapi genggaman tangannya masih terasa. Tak mau hilang juga……
------------------------------------------------------------------------------------------------
Akhirnya tiba juga saatnya band kami tampil di acara Natal. Ada rasa gugup juga. Untuk mengurangi rasa takut dan gugup kami berdoa bersama. Akhirnya dengan penuh rasa percaya diri kami menampilkan apa yang sudah kami persiapkan lebih dari satu bulan. Kami berusaha tampil prima. Penampilan kami kali ini harus benar – benar bagus selain karena memuji Tuhan itu harus maksimal, juga karena kami harus membuktikan bahwa kami mampu. Sebelumnya beberapa orang majelis meragukan kami. Kegiatan band kami dianggap hanya pemborosan saja. Jadi penampilan perdana ini jadi ujian. Kalau bagus, kegiatan bisa dilanjutkan. Tapi kalau jelek ya terpaksa tidak ada anggaran lagi buat band kami. Meskipun dengan beban yang demikian di pundak kami, aku dan teman-teman berhasil tampil dengan acungan jempol dari orang-orang yang semula tidak yakin akan kemampuan kami.
Bagiku band ini juga jadi penyembuh luka hatiku. Aku mulai mampu melupakan Aldi dan kembali ceria. Apalagi teman-teman semuanya kompak. Persahabatan kami juga terus berlanjut sekalipun puncak latihan dan penampilan sudah berlalu. Setiap hari kami saling sms. Meskipun kadang-kadang hanya sekedar basa-basi, tanya kabar yang menurutku tidak penting. Yah hanya tanya sudah makan belum ? Sedang belajar ya ? Atau semacam itulah. Pemborosan pulsa! Tapi aku juga senang. Demi menjaga persahabatan, apalah artinya pulsa. Dan yang paling sering kirim sms adalah Rendi dan Roni. Kalau sehari saja tidak ada sms dari mereka, rasanya ada yang kurang. Lama-lama aku seperti orang yang kecanduan sms.
Pagi ini aku bangun pagi juga karena HPku bergetar karena ada sms masuk. Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, kuraih HP di bawah bantalku. Samar - samar ku baca nama Roni. Ku tekan tombol untuk membaca pesan. Ah, ku usap-usap mataku berkali-kali. Ku cubit lenganku. Ini bukan mimpi. Sekali lagi ku baca pesan dari Roni.
“Sejk p’tama Qta lthan b’sama, ada rasa berbeda tiap aq
memandangmu dan semakin aq memendamnya, semakin aq tak kuasa
menahannya… Cha….. mo gak u jadi pacar q?.. Blz sc4nya.
Belum habis rasa heran, kaget dan debaran di dadaku, ku dengar suara sepeda motor Rendi berhenti di depan rumahku. Aku bergegas ke depan untuk membukakan pintu. Rendi tersenyum sekilas kemudian melirik ke tanganku yang masih menggenggam HP.
“Apa itu Cha ? Sms ya ? Dari siapa ? “
Belum aku sempat menjawab, Rendi sudah mengambil HP dari tanganku. Kami memang terbiasa saling melihat isi HP. Karena memang tidak ada rahasia diantara kami. Tapi kali ini ada rasa kikuk ketika ku lihat Rendi membaca sms Roni.
“ Jadi Roni suka kamu ya ? Sudah kamu balas ? “
“ Nggak! Belum aku balas. “
“ Bagaimana ? Mau kamu balas apa ? Kamu terima ? “
“ Nggak tahu aku masih bingung. Enaknya bagaimana ya ? “
“ Nggak usah! “
“ Kenapa sih kamu ? ” Tidak biasanya Rendi bersikap seperti itu. Justru kalau aku dapat sms dari teman laki-laki, dia biasanya akan menggoda aku sambil cengengesan. Tapi kali ini dia tampak marah dan kesal banget.
“ Kamu cemburu ?? “ Aku menggodanya.
“ Sudah tahu nggak usah tanya. ” Jawaban Rendi membuat aku terhenyak. Aku sama sekali tidak menduga Rendi akan menjawab seperti itu. Benarkah……??? Tuhan mungkinkah ini HADIAH NATAL TERINDAH dariMu ??? Tapi yang mana……???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar